Di negara kita, hari natal mungkin lebih identik sama hari kumpul-kumpul bareng temen dan keluarga, hari di mana gereja bakal penuh sama jemaatnya buat datang, kebaktian bersama, dan merayakan sukacita hari natal di gereja. Lain halnya di Korea Selatan. Natal di Korea Selatan lebih identik dengan ‘hari pasangan‘ (biarpun ada juga siy yang ngerayain bareng temen gereja, tetapi bisa dibilang hampir semuanya merasa seperti ‘hari pasangan‘.

Masih inget malam natal pertama yang mimin spend di Korea Selatan. Waktu itu tahun pertama mimin tinggal di Korea dan tahun pertama juga mimin ngerasain natal di Korea. Mimin masih inget mimin ngantri ngambil gaji di malam natal di rumah sakit operasi plastik Grand Plastic Surgery (tempat mimin kerja pada saat itu sebagai penerjemah). Waktu uda menunjukkan pukul 18.30 (uda lewat jam pulang) dan temen-temen kerja mimin mulai resah gak tenang karena pembagian gaji belum mulai juga. Maklum gaji harus diambil dan absen dulu baru bisa pulang.

Sampai akhirnya, ketika tiba giliran mimin buat absen pulang dan terima gaji. Mimin bernafas lega dan dengan langkah ringan dan hati gembira (karena baru gajian), mimin menuju ke MRT terdekat buat pulang ke rumah, tapi Masya Allah, betapa kagetnya mimin, MRT yang biasanya gak ramai, tiba-tiba antriannya uda sepanjang ular anaconda, bahkan sampai keluar-keluar ke pintu masuk stasiun. Dalam hati mimin masih berpikir, ‘Wah, jangan-jangan ada yang bunuh diri di MRT’. Karena dulu waktu jaman masih kuliah di Singapura, stasiun MRT cuma seramai ini waktu ada yang bunuh diri dengan terjun bebas ke jalur kereta (ini serius dan bukan becanda).

Tapi ternyata bukan begitu kalau di Korea. Malam natal di Korea, either kamu memilih buat pulang cepat atau pulang larut malam buat menghindari situasi yang tidak mengenakkan di stasiun kereta. Kenapa? Karena semua orang berlomba-lombaan keluar dari rumah buat pergi kencan dan menghabiskan sweet time sama pasangannya masing-masing. Jadi beginilah akibatnya. Saking lebaynya, ada lowh pasangan yang jadian tanggal 23 Desember jam 11:50 malam cuma demi punya pacar buat diajak jalan dan kencan di malam natal. Demi banget ya?

Berasa lebay? Ini engga lebay sama sekali. At least engga lebay sampe kamu liat sendiri situasi stasiun kereta dengan mata kepala kamu sendiri. Bahkan ada lowh comic strip yang menggambarkan situasi yang unik di Korea ini pada malam natal.

18시30분 부로 경계경보를 발령합니다 : Peringatan ini diumumkan pada pukul 18 lewat 30 menit.

이것 참, 담배 사러 가야 되는데 : Aduh, aku harus pergi membeli rokok

조금만 기다려요, 그걸 못 참아서 : Tunggu sebentar, gitu aja gak sabar

그 시간이 되면 밖으로 나갈 수 없었다 : Begitu waktunya tiba, tidak ada yang boleh keluar rumah.

어린 시절의 민방위 훈련은 그랬었다 : Begitulah ketika adanya pelatihan pertahanan sipil di waktu kanak-kanakku dulu.

최근 남복교류가 활발해짐에 따라 : Karena semakin maraknya hubungan antara Selatan dan Utara belakangan ini…

자라 : Tidurlah

그리고 2003 년 12월 25일 : Kemudian pada 25 Desember 2003

자고 일어나면 모든 게 끝나 있을거야 : Ketika bangun nanti, semuanya akan terlewati

그들만의 민방위 훈련이 시작된다 : Dimulailah pelatihan pertahanan sipil milik “mereka saja”

Di kalimat terakhir “mereka saja” itu merujuk kepada para jomblo-jomblo yang gak punya pasangan buat diajak pergi kencan di tanggal 24 malam. Saking banyaknya couple atau pasangan yang mondar mandir di jalan, bikin kamu minder kalau kamu harus jalan di tengah-tengah couple yang lagi sayang-sayangan. Jadi biasanya para jomblo yang gak punya pasangan bakal lebih memilih buat tidur di tanggal 24 malam dan baru bangun atau baru keluar rumah lagi tanggal 26 pagi, biar mereka gak usa ngerasa miris kalau liat couple yang lagi berbahagia di jalanan. Lebay banget kan?

Ya mungkin lebay buat kita, tapi hal itu gak lebay buat orang Korea.

Terus apa siy yang membuat mereka heboh banget ngerayain natalan sebagai couple day dan bukannya sebagai hari natal yang bener-bener hari natal?

Alasannya ada dua:

  • Karena banyaknya penginjil yang masuk ke Korea Selatan setelah mereka merdeka dari penjajahan, banyak orang Korea Selatan yang mulai mengenal budaya natal ini dengan tanggapan bahwa hari di mana kita harus melewatinya bersama seseorang. Ditambah lagi pajangan lampu yang super bagus dan dekorasi jalanan yang cantik bikin para couple jadi serasa lebih romantis. Di sinilah salah satu awal mula kenapa hari natal di Korea Selatan cenderung lebih kerasa seperti couple day dibandingkan terasa seperti sesuatu yang religius.
  • Bahkan ketika masa pemerintahan diktaktor di tahun 1945-1982, di mana adanya jam malam pada masa itu (refer ke comic strip di atas), di mana orang-orang Korea Selatan gak bisa sembarangan keluar dari rumah setelah lewat batas jam malam, pemerintah hanya menghilangkan jam malam setahun sekali yaitu di malam natal. Jadi ini juga yang munkin menjadi salah satu faktor pendorong di mana orang-orang Korea Selatan semakin merasa kalau hari natal harus dirayakan bareng orang terkasih, alias pacar.

Nah, gimana dengan kalian sendiri? Kalian merasa hari natal enaknya dirayain bareng temen? Bareng keluarga? Or bareng yayang seperti budaya orang Korea Selatan?

by ssemQ